Terapi Obat-obatan
Klomifen sitrat, clomiphene citrate, tercatat sebagai obat yang paling sering diresepkan oleh dokter untuk kasus-kasus kegagalan dalam berovulasi. Di masyarakat awam, mereka lebih mengenal dengan istilah obat “penyubur”. Klomifen sitrat menempati hampir 2/3 dari resep obat-obatan untuk mengatasi infertilitas. Selain harganya terjangkau, sekitar Rp13.000/tablet, juga cukup memberikan hasil yang baik jika digunakan pada kasus-kasus terpilih yang disebabkan oleh kegagalan berovulasi. Sekitar 80% pasien yang diobati dapat berovulasi, dan 65% menjadi hamil.
Klomifen sitrat biasanya diminum di hari ke-5 sampai dengan hari ke-9 menstruasi, dengan dosis 50 miligram. Dengan dosis maksimal 100 miligram, dan dapat digunakan sampai dengan 6 kali siklus haid jika kehamilan belum kunjung terjadi. Klomifen sitrat di Indonesia diperdagangkan dengan merek Profertil, Blesifen, Provula, dan Genoclom.
Terapi Bedah
Teknik bedah mikro untuk terapi infertilitas saat ini telah mengalami kemajuan pesat. Hampir semua prosedur tindakan bedah untuk infertilitas menggunakan bedah laparoskopi. Laparoskopi adalah instrumen bedah yang dilengkap kamera fiber-optik sehingga memungkinkan ahli bedah untuk melihat organ dalam secara langsung melalui monitor. Alat laparoskopi yang hanya seperti tabung berdiameter 2 sentimeter, dimasukkan ke dalam tubuh melalui irisan kecil lewat perut dengan pasien dalam keadaan teranestesi umum. Dengan kamera fiber-optik tersebut, seorang spesialis kandungan dapat melihat organ reproduksi Anda mulai dari rahim, saluran tuba, fimbria, dan ovarium berikut kelainan-kelainan yang mungkin terjadi secara langsung. Jika kelainan tersebut bisa dikoreksi, maka dengan alat ini juga dokter akan segera melakukan koreksi.

Terapi Endometriosis
Terapi obat hormonal untuk kasus-kasus endometriosis kurang memberikan hasil yang memuaskan. Tetapi prosedur tindakan bedah laparoskopi memberikan harapan yang lebih baik.
Untuk kasus endometriosis yang ringan sampai sedang, penggunaan teknik bedah laparoskopi akan meningkatkan hampir 60% terjadinya konsepsi kehamilan. Tetapi untuk kasus endometriosis berat, teknik ini tidak begitu bermanfaat.
Assisted Reproduction Technology (ART)
Teknologi reproduksi berbantu (hal. 54) biasa dikenal sebagai program bayi tabung. Teknik ini mungkin akan ditawarkan jika Anda terkena endometriosis yang cukup berat. Tren penanganan kasus infertilitas untuk kasus-kasus endometriosis saat ini, para ahli lebih memilih langsung ART sebagai terapi difinitif tanpa prosedur operasi laparoskopi. Ini dikarenakan biaya yang dikeluarkan untuk operasi laparoskopi cukup besar, padahal nanti jika laparoskopi tidak membuahkan hasil yang baik, akhirnya ART jugalah yang akan menjadi pilihan terakhir.
Teknik Bedah Mikro: Fimbrioplasty
Saluran indung telur yang buntu sebagian besar diakibatkan oleh infeksi radang panggul. Jika kondisi ini terjadi, dengan teknik bedah mikro masih ada harapan untuk membukanya kembali. Teknik yang dikenal dengan fimbrioplasty ini, sedikit banyak dapat mengembalikan saluran tuba yang buntu kembali terbuka. Sehingga sel telur yang dilepaskan saat ovulasi dapat ditangkap kembali oleh fimbria dan akan masuk ke dalam saluran tuba untuk bisa bertemu dengan sel sperma. Sepertiga kasus saluran indung telur yang buntu ini, setelah dilakukan operasi fimbrioplasty dapat berhasil dan menghasilkan kehamilan.
HSG, Hystero Salpingo Graphy
HSG adalah salah satu prosedur pemeriksaan untuk menilai keadaan saluran tuba atau saluran indung telur Anda. HSG cukup mudah dikerjakan dan tidak mahal. Hasilnya cukup akurat untuk mengetahui apakah saluran tuba Anda buntu atau tidak buntu, dan paten atau tidak paten.
Prosedur pelaksanaan pemeriksaan HSG adalah dengan memasukkan cairan kontras ke dalam rahim menuju saluran indung telur kanan dan kiri, selanjutnya dilakukan proses foto rontgen seperti biasa. Dokter ahli radiologi yang akan melakukan pemeriksaan ini.



















Discussion about this post